Tata Surya adalah tempat bumi berada di alam
semesta ini. Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas
sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh
gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet
yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet
kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan
benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk
asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk
Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah
terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah
Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars
(228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus
(2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008,
ada lima objek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil.
Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari
Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di
sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto
(5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan),
Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta
km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu
dikelilingi oleh satelit alami, yang biasa disebut dengan “bulan” sesuai
dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar
dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.
Bentuk Tata Surya Lonjong Seperti Telur
Jutaan buku teks yang menggambarkan Tata Surya kita seperti bola
mungkin salah besar. Berdasarkan hasil kajian data-data yang dikirimkan
wahana antariksa kembar milik NASA menunjukkan bahwa bentuk tata surya
kita lonjong, seperti telur, bukan bulat seperti bola.
Batas heliosfer yang merupakan daerah terluar tata surya tidak
simetris. Heliosfir merupakan daerah yang didominasi angin surya atau
partikel yang disemburkan oleh Matahari. Heliosfer merentang di luar
orbit Pluto, atau setelah enam miliar kilometer dari Matahari
Di heliosfer terjadi pertemuan antara angin surya dengan angin
antarbintang sehingga timbul fenomena yang disebut termination shock.
Angin surya yang dimaksud merupakan semburan partikel-partikel bermuatan
listrik yang dipancarkan Matahari ke sekitarnya. Kecepatan angin surya
yang semula mencapai jutaan kilometer per jam menurun sampai hanya
400.000 kilometer per jam karena terdesak dari luar.
Termination shock inilah yang menandai batas tata surya. Untuk
menentukannya, NASA telah mengirimkan dua wahana kembar Voyager 1 dan 2
ke arah berbeda, masing-masing ke utara dan selatan Matahari pada tahun
1977.
Voyager 1 telah melintasi kawasan tersebut pada Desember 2004 saat
berada 7,8 miliar mil atau sekitar 12,48 miliar kilometer dari Matahari.
Sementara, Voyager 2 baru melintasi kawasan termination shock pada
Agustus 2007 di jarak 7 miliar mil dari matahari. Seperti dilaporkan
dalam jurnal Nature edisi terbaru, perbedaan ini membuktikan heliosfir
tidak bulat sama sekali, melainkan seperti sebutir telur.
“Bayangkan seperti sebuah balon yang ditiup oleh angin surya.
Pikirkan bahwa balon tersebut awalnya bulat lalu Anda menekannya ke
tembok. Bentuknya akan rata pada salah satu sisinya,” tutur Edward Stone
dari California Institute of Technology, salah satu ilmuwan yang
terlibat dalam riset tersebut. Ia mengatakan itulah yang terjadi pada
heliosfer.
Penelitian mengenai batas tata surya masih akan terus berlanjut.
Sudah 30 tahun lebih kedua wahana bekerja, namun masih aktif mengirimkan
data sampai sekarang. Wahana yang meluncur dengan kecepatan lebih dari
17.000 kilometer per detik dengan tenaga nuklir itu sekarang menjadi
tumpuan utama pengamatan atas batas terjauh tata surya.
Asal usul
Banyak hipotesis tentang asal usul Tata Surya telah dikemukakan para ahli, di antaranya :
Hipotesis Nebula
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg
(1688-1772)[1] tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant
(1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh
Pierre Marquis de Laplace[2] secara independen pada tahun 1796.
Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace,
menyebutkan bahwa pada tahap awal, Tata Surya masih berupa kabut
raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula,
dan unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang
dimilikinya menyebabkan kabut itu menyusut dan berputar dengan arah
tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa
(matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat,
dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat
gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan
suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat
bahwa orbit berbentuk hampir melingkar dari planet-planet merupakan
konsekuensi dari pembentukan mereka.

Hipotesis Planetisimal
Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C.
Chamberlin dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal
mengatakan bahwa Tata Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain
yang lewat cukup dekat dengan matahari, pada masa awal pembentukan
matahari. Kedekatan tersebut menyebabkan terjadinya tonjolan pada
permukaan matahari, dan bersama proses internal matahari, menarik materi
berulang kali dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan
terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sementara
sebagian besar materi tertarik kembali, sebagian lain akan tetap di
orbit, mendingin dan memadat, dan menjadi benda-benda berukuran kecil
yang mereka sebut planetisimal dan beberapa yang besar sebagai
protoplanet. Objek-objek tersebut bertabrakan dari waktu ke waktu dan
membentuk planet dan bulan, sementara sisa-sisa materi lainnya menjadi
komet dan asteroid.
Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James
Jeans pada tahun 1917. Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya
bintang lain kepada matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan
menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari matahari dan bintang
lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang kemudian
terkondensasi menjadi planet. Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929
membantah bahwa tabrakan yang sedemikian itu hampir tidak mungkin
terjadi. Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan
keberatannya atas hipotesis tersebut.
Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang
bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi
menjelaskan bahwa Tata Surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang
berputar membentuk cakram raksasa.
Hipotesis Bintang Kembar
Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle
(1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya Tata
Surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan
yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.
Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan
mulai mengelilinginya.
Sejarah penemuan
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars,
Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka
semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini
memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad
lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari
selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop
refraktornya mampu menjadikan mata manusia “lebih tajam” dalam mengamati
benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang.
Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat
berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau
Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari.
Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris,
yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang
sebelumnya digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543). Susunan
heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti
Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus,
yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.
Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan
perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain
melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya,
Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori
perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan
benda-benda langit selanjutnya
Pada 1781, William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus. Perhitungan
cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu.
Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak
cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada
1930.
Model heliosentris dalam manuskrip Copernicus.
Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya
objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon,
satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira
sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh
dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lainnya
yang letaknya melampaui Neptunus (disebut objek trans-Neptunus), yang
juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek
serupa yang dikenal sebagai Objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah
bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk
dalam Objek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002),
Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus,
Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).
Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini
diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran
lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km
pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih
besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit.
Struktur
Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari, sebuah bintang
deret utama kelas G2 yang mengandung 99,86 persen massa dari sistem dan
mendominasi seluruh dengan gaya gravitasinya. Yupiter dan Saturnus, dua
komponen terbesar yang mengedari matahari, mencakup kira-kira 90 persen
massa selebihnya.[c]
Hampir semua objek-objek besar yang mengorbit matahari terletak pada
bidang edaran bumi, yang umumnya dinamai ekliptika. Semua planet
terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara komet dan objek-objek
sabuk Kuiper biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar dibandingkan
ekliptika.
Perbanding relatif massa planet. Yupiter adalah 71% dari total dan
Saturnus 21%. Merkurius dan Mars, yang total bersama hanya kurang dari
0.1% tidak nampak dalam diagram di atas.
Hukum Gerakan Planet Kepler menjabarkan bahwa orbit dari objek-objek
Tata Surya sekeliling matahari bergerak mengikuti bentuk elips dengan
matahari sebagai salah satu titik fokusnya. Objek yang berjarak lebih
dekat dari matahari (sumbu semi-mayor-nya lebih kecil) memiliki tahun
waktu yang lebih pendek. Pada orbit elips, jarak antara objek dengan
matahari bervariasi sepanjang tahun. Jarak terdekat antara objek dengan
matahari dinamai perihelion, sedangkan jarak terjauh dari matahari
dinamai aphelion. Semua objek Tata Surya bergerak tercepat di titik
perihelion dan terlambat di titik aphelion. Orbit planet-planet bisa
dibilang hampir berbentuk lingkaran, sedangkan komet, asteroid dan objek
sabuk Kuiper kebanyakan orbitnya berbentuk elips.
Untuk mempermudah representasi, kebanyakan diagram Tata Surya
menunjukan jarak antara orbit yang sama antara satu dengan lainnya. Pada
kenyataannya, dengan beberapa perkecualian, semakin jauh letak sebuah
planet atau sabuk dari matahari, semakin besar jarak antara objek itu
dengan jalur edaran orbit sebelumnya. Sebagai contoh, Venus terletak
sekitar sekitar 0,33 satuan astronomi (SA) lebih dari Merkurius[d],
sedangkan Saturnus adalah 4,3 SA dari Yupiter, dan Neptunus terletak
10,5 SA dari Uranus. Beberapa upaya telah dicoba untuk menentukan
korelasi jarak antar orbit ini (hukum Titus-Bode), tetapi sejauh ini
tidak satu teori pun telah diterima.
Illustrasi skala
Hampir semua planet-planet di Tata Surya juga memiliki sistem
sekunder. Kebanyakan adalah benda pengorbit alami yang disebut satelit,
atau bulan. Beberapa benda ini memiliki ukuran lebih besar dari planet.
Hampir semua satelit alami yang paling besar terletak di orbit sinkron,
dengan satu sisi satelit berpaling ke arah planet induknya secara
permanen. Empat planet terbesar juga memliki cincin yang berisi
partikel-partikel kecil yang mengorbit secara serempak.
Secara informal, Tata Surya dapat dibagi menjadi tiga daerah. Tata
Surya bagian dalam mencakup empat planet kebumian dan sabuk asteroid
utama. Pada daerah yang lebih jauh, Tata Surya bagian luar, terdapat
empat gas planet raksasa. Sejak ditemukannya Sabuk Kuiper, bagian
terluar Tata Surya dianggap wilayah berbeda tersendiri yang meliputi
semua objek melampaui Neptunus.
Secara dinamis dan fisik, objek yang mengorbit matahari dapat
diklasifikasikan dalam tiga golongan: planet, planet kerdil, dan benda
kecil Tata Surya. Planet adalah sebuah badan yang mengedari matahari dan
mempunyai massa cukup besar untuk membentuk bulatan diri dan telah
membersihkan orbitnya dengan menginkorporasikan semua objek-objek kecil
di sekitarnya. Dengan definisi ini, Tata Surya memiliki delapan planet:
Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, dan Neptunus. Pluto
telah dilepaskan status planetnya karena tidak dapat membersihkan
orbitnya dari objek-objek Sabuk Kuiper. Planet kerdil adalah benda
angkasa bukan satelit yang mengelilingi matahari, mempunyai massa yang
cukup untuk bisa membentuk bulatan diri tetapi belum dapat membersihkan
daerah sekitarnya.Menurut definisi ini, Tata Surya memiliki lima buah
planet kerdil: Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. Objek lain yang
mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil adalah: Sedna,
Orcus, dan Quaoar. Planet kerdil yang memiliki orbit di daerah
trans-Neptunus biasanya disebut “plutoid”. Sisa objek-objek lain
berikutnya yang mengitari matahari adalah benda kecil Tata Surya.
Ilmuwan ahli planet menggunakan istilah gas, es, dan batu untuk
mendeskripsi kelas zat yang terdapat di dalam Tata Surya. Batu digunakan
untuk menamai bahan bertitik lebur tinggi (lebih besar dari 500 K),
sebagai contoh silikat. Bahan batuan ini sangat umum terdapat di Tata
Surya bagian dalam, merupakan komponen pembentuk utama hampir semua
planet kebumian dan asteroid. Gas adalah bahan-bahan bertitik lebur
rendah seperti atom hidrogen, helium, dan gas mulia, bahan-bahan ini
mendominasi wilayah tengah Tata Surya, yang didominasi oleh Yupiter dan
Saturnus. Sedangkan es, seperti air, metana, amonia dan karbon dioksida,
memiliki titik lebur sekitar ratusan derajat kelvin. Bahan ini
merupakan komponen utama dari sebagian besar satelit planet raksasa. Ia
juga merupakan komponen utama Uranus dan Neptunus (yang sering disebut
“es raksasa”), serta berbagai benda kecil yang terletak di dekat orbit
Neptunus.
Istilah volatiles mencakup semua bahan bertitik didih rendah (kurang
dari ratusan kelvin), yang termasuk gas dan es; tergantung pada suhunya,
‘volatiles’ dapat ditemukan sebagai es, cairan, atau gas di berbagai
bagian Tata Surya.
Zona planet
Di zona planet dalam, Matahari adalah pusat Tata Surya dan letaknya
paling dekat dengan planet Merkurius (jarak dari matahari 57,9 × 106 km,
atau 0,39 SA), Venus (108,2 × 106 km, 0,72 SA), Bumi (149,6 × 106 km,
1 SA) dan Mars (227,9 × 106 km, 1,52 SA). Ukuran diameternya antara
4.878 km dan 12.756 km, dengan massa jenis antara 3,95 g/cm3 dan
5,52 g/cm3.
Zona Tata Surya yang meliputi, planet bagian dalam, sabuk asteroid,
planet bagian luar, dan sabuk Kuiper. (Gambar tidak sesuai skala)
Antara Mars dan Yupiter terdapat daerah yang disebut sabuk asteroid,
kumpulan batuan metal dan mineral. Kebanyakan asteroid-asteroid ini
hanya berdiameter beberapa kilometer (lihat: Daftar asteroid), dan
beberapa memiliki diameter 100 km atau lebih. Ceres, bagian dari
kumpulan asteroid ini, berukuran sekitar 960 km dan dikategorikan
sebagai planet kerdil. Orbit asteroid-asteroid ini sangat eliptis,
bahkan beberapa menyimpangi Merkurius (Icarus) dan Uranus (Chiron).
Pada zona planet luar, terdapat planet gas raksasa Yupiter
(778,3 × 106 km, 5,2 SA), Uranus (2,875 × 109 km, 19,2 SA) dan Neptunus
(4,504 × 109 km, 30,1 SA) dengan massa jenis antara 0,7 g/cm3 dan
1,66 g/cm3.
Jarak rata-rata antara planet-planet dengan matahari bisa
diperkirakan dengan menggunakan baris matematis Titus-Bode. Regularitas
jarak antara jalur edaran orbit-orbit ini kemungkinan merupakan efek
resonansi sisa dari awal terbentuknya Tata Surya. Anehnya, planet
Neptunus tidak muncul di baris matematis Titus-Bode, yang membuat para
pengamat berspekulasi bahwa Neptunus merupakan hasil tabrakan kosmis.
Matahari
Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama
sistem Tata Surya ini. Bintang ini berukuran 332.830 massa bumi. Massa
yang besar ini menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk bisa
mendukung kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah energi
yang dahsyat. Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam
bentuk radiasi eletromagnetik, termasuk spektrum optik.

Matahari dikategorikan ke dalam bintang kerdil kuning (tipe G V) yang
berukuran tengahan, tetapi nama ini bisa menyebabkan kesalahpahaman,
karena dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada di dalam galaksi
Bima Sakti, matahari termasuk cukup besar dan cemerlang. Bintang
diklasifikasikan dengan diagram Hertzsprung-Russell, yaitu sebuah grafik
yang menggambarkan hubungan nilai luminositas sebuah bintang terhadap
suhu permukaannya. Secara umum, bintang yang lebih panas akan lebih
cemerlang. Bintang-bintang yang mengikuti pola ini dikatakan terletak
pada deret utama, dan matahari letaknya persis di tengah deret ini. Akan
tetapi, bintang-bintang yang lebih cemerlang dan lebih panas dari
matahari adalah langka, sedangkan bintang-bintang yang lebih redup dan
dingin adalah umum.
Matahari dilihat dari spektrum sinar-X
Dipercayai bahwa posisi matahari pada deret utama secara umum
merupakan “puncak hidup” dari sebuah bintang, karena belum habisnya
hidrogen yang tersimpan untuk fusi nuklir. Saat ini Matahari tumbuh
semakin cemerlang. Pada awal kehidupannya, tingkat kecemerlangannya
adalah sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang.
Matahari secara metalisitas dikategorikan sebagai bintang “populasi
I”. Bintang kategori ini terbentuk lebih akhir pada tingkat evolusi alam
semesta, sehingga mengandung lebih banyak unsur yang lebih berat
daripada hidrogen dan helium (“metal” dalam sebutan astronomi)
dibandingkan dengan bintang “populasi II”. Unsur-unsur yang lebih berat
daripada hidrogen dan helium terbentuk di dalam inti bintang purba yang
kemudian meledak. Bintang-bintang generasi pertama perlu punah terlebih
dahulu sebelum alam semesta dapat dipenuhi oleh unsur-unsur yang lebih
berat ini. Bintang-bintang tertua mengandung sangat sedikit metal,
sedangkan bintang baru mempunyai kandungan metal yang lebih tinggi.
Tingkat metalitas yang tinggi ini diperkirakan mempunyai pengaruh
penting pada pembentukan sistem Tata Surya, karena terbentuknya planet
adalah hasil penggumpalan metal.
Medium antarplanet
Di samping cahaya, matahari juga secara berkesinambungan memancarkan
semburan partikel bermuatan (plasma) yang dikenal sebagai angin
matahari. Semburan partikel ini menyebar keluar kira-kira pada kecepatan
1,5 juta kilometer per jam, menciptakan atmosfer tipis (heliosfer) yang
merambah Tata Surya paling tidak sejauh 100 SA (lihat juga heliopause).
Kesemuanya ini disebut medium antarplanet. Badai geomagnetis pada
permukaan matahari, seperti semburan matahari (solar flares) dan
lontaran massa korona (coronal mass ejection) menyebabkan gangguan pada
heliosfer, menciptakan cuaca ruang angkasa. Struktur terbesar dari
heliosfer dinamai lembar aliran heliosfer (heliospheric current sheet),
sebuah spiral yang terjadi karena gerak rotasi magnetis matahari
terhadap medium antarplanet. Medan magnet bumi mencegah atmosfer bumi
berinteraksi dengan angin matahari. Venus dan Mars yang tidak memiliki
medan magnet, atmosfernya habis terkikis ke luar angkasa. Interaksi
antara angin matahari dan medan magnet bumi menyebabkan terjadinya
aurora, yang dapat dilihat dekat kutub magnetik bumi.
Heliosfer juga berperan melindungi Tata Surya dari sinar kosmik yang
berasal dari luar Tata Surya. Medan magnet planet-planet menambah peran
perlindungan selanjutnya. Densitas sinar kosmik pada medium antarbintang
dan kekuatan medan magnet matahari mengalami perubahan pada skala waktu
yang sangat panjang, sehingga derajat radiasi kosmis di dalam Tata
Surya sendiri adalah bervariasi, meski tidak diketahui seberapa besar.
Medium antarplanet juga merupakan tempat beradanya paling tidak dua
daerah mirip piringan yang berisi debu kosmis. Yang pertama, awan debu
zodiak, terletak di Tata Surya bagian dalam dan merupakan penyebab
cahaya zodiak. Ini kemungkinan terbentuk dari tabrakan dalam sabuk
asteroid yang disebabkan oleh interaksi dengan planet-planet. Daerah
kedua membentang antara 10 SA sampai sekitar 40 SA, dan mungkin
disebabkan oleh tabrakan yang mirip tetapi tejadi di dalam Sabuk Kuiper.
Tata Surya bagian dalam
Tata Surya bagian dalam adalah nama umum yang mencakup planet
kebumian dan asteroid. Terutama terbuat dari silikat dan logam, objek
dari Tata Surya bagian dalam melingkup dekat dengan matahari, radius
dari seluruh daerah ini lebih pendek dari jarak antara Yupiter dan
Saturnus.
Planet-planet bagian dalam
Empat planet bagian dalam atau planet kebumian (terrestrial planet)
memiliki komposisi batuan yang padat, hampir tidak mempunyai atau tidak
mempunyai bulan dan tidak mempunyai sistem cincin. Komposisi
Planet-planet ini terutama adalah mineral bertitik leleh tinggi, seperti
silikat yang membentuk kerak dan selubung, dan logam seperti besi dan
nikel yang membentuk intinya. Tiga dari empat planet ini (Venus, Bumi
dan Mars) memiliki atmosfer, semuanya memiliki kawah meteor dan
sifat-sifat permukaan tektonis seperti gunung berapi dan lembah pecahan.
Planet yang letaknya di antara matahari dan bumi (Merkurius dan Venus)
disebut juga planet inferior.

Merkurius
Merkurius (0,4 SA dari matahari) adalah planet terdekat dari matahari
serta juga terkecil (0,055 massa bumi). Merkurius tidak memiliki
satelit alami dan ciri geologisnya di samping kawah meteorid yang
diketahui adalah lobed ridges atau rupes, kemungkinan terjadi karena
pengerutan pada perioda awal sejarahnya. Atmosfer Merkurius yang hampir
bisa diabaikan terdiri dari atom-atom yang terlepas dari permukaannya
karena semburan angin matahari. Besarnya inti besi dan tipisnya kerak
Merkurius masih belum bisa dapat diterangkan. Menurut dugaan hipotesa
lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan raksasa, dan
perkembangan (“akresi”) penuhnya terhambat oleh energi awal matahari.
Venus
Venus (0,7 SA dari matahari) berukuran mirip bumi (0,815 massa bumi).
Dan seperti bumi, planet ini memiliki selimut kulit silikat yang tebal
dan berinti besi, atmosfernya juga tebal dan memiliki aktivitas geologi.
Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya sembilan
kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah
planet terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C, kemungkinan besar
disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer.
Sejauh ini aktivitas geologis Venus belum dideteksi, tetapi karena
planet ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya
atmosfer, diduga sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi.
Bumi
Bumi (1 SA dari matahari) adalah planet bagian dalam yang terbesar
dan terpadat, satu-satunya yang diketahui memiliki aktivitas geologi dan
satu-satunya planet yang diketahui memiliki mahluk hidup. Hidrosfer-nya
yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga
merupakan satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng
tektonik. Atmosfer bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet
lainnya, karena dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang
menghasilkan 21% oksigen. Bumi memiliki satu satelit, bulan,
satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.
Mars
Mars (1,5 SA dari matahari) berukuran lebih keci dari bumi dan Venus
(0,107 massa bumi). Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan
utamanya adalah karbon dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi gunung
berapi raksasa seperti Olympus Mons dan lembah retakan seperti Valles
marineris, menunjukan aktivitas geologis yang terus terjadi sampai baru
belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang
kaya besi. Mars mempunyai dua satelit alami kecil (Deimos dan Phobos)
yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.
Sabuk asteroid
Asteroid secara umum adalah objek Tata Surya yang terdiri dari batuan dan mineral logam beku.

Sabuk asteroid utama terletak di antara orbit Mars dan Yupiter,
berjarak antara 2,3 dan 3,3 SA dari matahari, diduga merupakan sisa dari
bahan formasi Tata Surya yang gagal menggumpal karena pengaruh
gravitasi Yupiter.
Gradasi ukuran asteroid adalah ratusan kilometer sampai mikroskopis.
Semua asteroid, kecuali Ceres yang terbesar, diklasifikasikan sebagai
benda kecil Tata Surya. Beberapa asteroid seperti Vesta dan Hygiea
mungkin akan diklasifikasi sebagai planet kerdil jika terbukti telah
mencapai kesetimbangan hidrostatik.
Sabuk asteroid terdiri dari beribu-ribu, mungkin jutaan objek yang
berdiameter satu kilometer.[38] Meskipun demikian, massa total dari
sabuk utama ini tidaklah lebih dari seperseribu massa bumi.Sabuk utama
tidaklah rapat, kapal ruang angkasa secara rutin menerobos daerah ini
tanpa mengalami kecelakaan. Asteroid yang berdiameter antara 10 dan
10−4 m disebut meteorid.
Ceres
Ceres (2,77 SA) adalah benda terbesar di sabuk asteroid dan
diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Diameternya adalah sedikit
kurang dari 1000 km, cukup besar untuk memiliki gravitasi sendiri untuk
menggumpal membentuk bundaran. Ceres dianggap sebagai planet ketika
ditemukan pada abad ke 19, tetapi di-reklasifikasi menjadi asteroid pada
tahun 1850an setelah observasi lebih lanjut menemukan beberapa asteroid
lagi. Ceres direklasifikasi lanjut pada tahun 2006 sebagai planet
kerdil.
Kelompok asteroid
Asteroid pada sabuk utama dibagi menjadi kelompok dan keluarga
asteroid bedasarkan sifat-sifat orbitnya. Bulan asteroid adalah asteroid
yang mengedari asteroid yang lebih besar. Mereka tidak mudah dibedakan
dari bulan-bulan planet, kadang kala hampir sebesar pasangannya. Sabuk
asteroid juga memiliki komet sabuk utama yang mungkin merupakan sumber
air bumi.
Ceres
Asteroid-asteroid Trojan terletak di titik L4 atau L5 Yupiter (daerah
gravitasi stabil yang berada di depan dan belakang sebuah orbit
planet), sebutan “trojan” sering digunakan untuk objek-objek kecil pada
Titik Langrange dari sebuah planet atau satelit. Kelompok Asteroid Hilda
terletak di orbit resonansi 2:3 dari Yupiter, yang artinya kelompok ini
mengedari matahari tiga kali untuk setiak dua edaran Yupiter.
Tata Surya bagian luar
Pada bagian luar dari Tata Surya terdapat gas-gas raksasa dengan
satelit-satelitnya yang berukuran planet. Banyak komet berperioda pendek
termasuk beberapa Centaur, juga berorbit di daerah ini. Badan-badan
padat di daerah ini mengandung jumlah volatil (contoh: air, amonia,
metan, yang sering disebut “es” dalam peristilahan ilmu keplanetan) yang
lebih tinggi dibandingkan planet batuan di bagian dalam Tata Surya.
Planet-planet luar

Keempat planet luar, yang disebut juga planet raksasa gas (gas giant),
atau planet jovian, secara keseluruhan mencakup 99 persen massa yang
mengorbit matahari. Yupiter dan Saturnus sebagian besar mengandung
hidrogen dan helium; Uranus dan Neptunus memiliki proporsi es yang lebih
besar. Para astronom mengusulkan bahwa keduanya dikategorikan sendiri
sebagai raksasa es. Keempat raksasa gas ini semuanya memiliki cincin,
meski hanya sistem cincin Saturnus yang dapat dilihat dengan mudah dari
bumi.

Yupiter
Yupiter (5,2 SA), dengan 318 kali massa bumi, adalah 2,5 kali massa
dari gabungan seluruh planet lainnya. Kandungan utamanya adalah hidrogen
dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter menyebabkan timbulnya
beberapa ciri semi-permanen pada atmosfernya, sebagai contoh pita pita
awan dan Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Yupiter memiliki 63
satelit. Empat yang terbesar, Ganymede, Callisto, Io, dan Europa
menampakan kemiripan dengan planet kebumian, seperti gunung berapi dan
inti yang panas. Ganymede, yang merupakan satelit terbesar di Tata
Surya, berukuran lebih besar dari Merkurius.
Saturnus
Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya, memiliki
beberapa kesamaan dengan Yupiter, sebagai contoh komposisi atmosfernya.
Meskipun Saturnus hanya sebesar 60% volume Yupiter, planet ini hanya
seberat kurang dari sepertiga Yupiter atau 95 kali massa bumi, membuat
planet ini sebuah planet yang paling tidak padat di Tata Surya. Saturnus
memiliki 60 satelit yang diketahui sejauh ini (dan 3 yang belum
dipastikan) dua di antaranya Titan dan Enceladus, menunjukan activitas
geologis, meski hampir terdiri hanya dari es saja.[45] Titan berukuran
lebih besar dari Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata
Surya yang memiliki atmosfer yang cukup berarti.
Uranus
Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi, adalah planet yang
paling ringan di antara planet-planet luar. Planet ini memiliki
kelainan ciri orbit. Uranus mengedari matahari dengan bujkuran poros 90
derajad pada ekliptika. Planet ini memiliki inti yang sangat dingin
dibandingkan gas raksasa lainnya dan hanya sedikit memancarkan energi
panas.[46] Uranus memiliki 27 satelit yang diketahui, yang terbesar
adalah Titania, Oberon, Umbriel, Ariel dan Miranda.
Neptunus
Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih kecil dari Uranus, memiliki
17 kali massa bumi, sehingga membuatnya lebih padat. Planet ini
memancarkan panas dari dalam tetapi tidak sebanyak Yupiter atau
Saturnus. Neptunus memiliki 13 satelit yang diketahui. Yang terbesar,
Triton, geologinya aktif, dan memiliki geyser nitrogen cair. Triton
adalah satu-satunya satelit besar yang orbitnya terbalik arah
(retrogade). Neptunus juga didampingi beberapa planet minor pada
orbitnya, yang disebut Trojan Neptunus. Benda-benda ini memiliki
resonansi 1:1 dengan Neptunus.
Komet
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Komet
Komet adalah badan Tata Surya kecil, biasanya hanya berukuran
beberapa kilometer, dan terbuat dari es volatil. Badan-badan ini
memiliki eksentrisitas orbit tinggi, secara umum perihelion-nya terletak
di planet-planet bagian dalam dan letak aphelion-nya lebih jauh dari
Pluto. Saat sebuah komet memasuki Tata Surya bagian dalam, dekatnya
jarak dari matahari menyebabkan permukaan esnya bersumblimasi dan
berionisasi, yang menghasilkan koma, ekor gas dan debu panjang, yang
sering dapat dilihat dengan mata telanjang.
Komet berperioda pendek memiliki kelangsungan orbit kurang dari dua
ratus tahun. Sedangkan komet berperioda panjang memiliki orbit yang
berlangsung ribuan tahun. Komet berperioda pendek dipercaya berasal dari
Sabuk Kuiper, sedangkan komet berperioda panjang, seperti Hale-bopp,
berasal dari Awan Oort. Banyak kelompok komet, seperti Kreutz
Sungrazers, terbentuk dari pecahan sebuah induk tunggal. Sebagian komet
berorbit hiperbolik mungking berasal dari luar Tata Surya, tetapi
menentukan jalur orbitnya secara pasti sangatlah sulit.[50] Komet tua
yang bahan volatilesnya telah habis karena panas matahari sering
dikategorikan sebagai asteroid.
Centaur
Centaur adalah benda-benda es mirip komet yang poros semi-majornya
lebih besar dari Yupiter (5,5 SA) dan lebih kecil dari Neptunus (30 SA).
Centaur terbesar yang diketahui adalah, 10199 Chariklo, berdiameter
250 km. Centaur temuan pertama, 2060 Chiron, juga diklasifikasikan
sebagai komet (95P) karena memiliki koma sama seperti komet kalau
mendekati matahari. Beberapa astronom mengklasifikasikan Centaurs
sebagai objek sabuk Kuiper sebaran-ke-dalam (inward-scattered Kuiper
belt objects), seiring dengan sebaran keluar yang bertempat di piringan
tersebar (outward-scattered residents of the scattered disc).
Daerah trans-Neptunus
Daerah yang terletak jauh melampaui Neptunus, atau daerah
trans-Neptunus, sebagian besar belum dieksplorasi. Menurut dugaan daerah
ini sebagian besar terdiri dari dunia-dunia kecil (yang terbesar
memiliki diameter seperlima bumi dan bermassa jauh lebih kecil dari
bulan) dan terutama mengandung batu dan es. Daerah ini juga dikenal
sebagai daerah luar Tata Surya, meskipun berbagai orang menggunakan
istilah ini untuk daerah yang terletak melebihi sabuk asteroid.

Sabuk Kuiper

Sabuk Kuiper adalah sebuah cincin raksasa mirip dengan sabuk asteroid,
tetapi komposisi utamanya adalah es. Sabuk ini terletak antara 30 dan 50
SA, dan terdiri dari benda kecil Tata Surya. Meski demikian, beberapa
objek Kuiper yang terbesar, seperti Quaoar, Varuna, dan Orcus, mungkin
akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Para ilmuwan memperkirakan
terdapat sekitar 100.000 objek Sabuk Kuiper yang berdiameter lebih dari
50 km, tetapi diperkirakan massa total Sabuk Kuiper hanya sepersepuluh
massa bumi. Banyak objek Kuiper memiliki satelit ganda dan kebanyakan
memiliki orbit di luar bidang eliptika.
Plot seluruh objek sabuk Kuiper
Sabuk Kuiper secara kasar bisa dibagi menjadi “sabuk klasik” dan
resonansi. Resonansi adalah orbit yang terkait pada Neptunus (contoh:
dua orbit untuk setiap tiga orbit Neptunus atau satu untuk setiap dua).
Resonansi yang pertama bermula pada Neptunus sendiri. Sabuk klasik
terdiri dari objek yang tidak memiliki resonansi dengan Neptunus, dan
terletak sekitar 39,4 SA sampai 47,7 SA.[56] Anggota dari sabuk klasik
diklasifikasikan sebagai cubewanos, setelah anggota jenis pertamanya
ditemukan (15760) 1992QB1
Diagram yang menunjukkan pembagian sabuk Kuiper
Pluto dan Charon
Pluto (rata-rata 39 SA), sebuah planet kerdil, adalah objek terbesar
sejauh ini di Sabuk Kuiper. Ketika ditemukan pada tahun 1930, benda ini
dianggap sebagai planet yang kesembilan, definisi ini diganti pada tahun
2006 dengan diangkatnya definisi formal planet. Pluto memiliki
kemiringan orbit cukup eksentrik (17 derajat dari bidang ekliptika) dan
berjarak 29,7 SA dari matahari pada titik prihelion (sejarak orbit
Neptunus) sampai 49,5 SA pada titik aphelion.

Tidak jelas apakah Charon, bulan Pluto yang terbesar, akan terus
diklasifikasikan sebagai satelit atau menjadi sebuah planet kerdil juga.
Pluto dan Charon, keduanya mengedari titik barycenter gravitasi di atas
permukaannya, yang membuat Pluto-Charon sebuah sistem ganda. Dua bulan
yang jauh lebih kecil Nix dan Hydra juga mengedari Pluto dan Charon.
Pluto terletak pada sabuk resonan dan memiliki 3:2 resonansi dengan
Neptunus, yang berarti Pluto mengedari matahari dua kali untuk setiap
tiga edaran Neptunus. Objek sabuk Kuiper yang orbitnya memiliki
resonansi yang sama disebut plutino.
Haumea dan Makemake
Haumea (rata-rata 43,34 SA) dan Makemake (rata-rata 45,79 SA) adalah
dua objek terbesar sejauh ini di dalam sabuk Kuiper klasik. Haumea
adalah sebuah objek berbentuk telur dan memiliki dua bulan. Makemake
adalah objek paling cemerlang di sabuk Kuiper setelah Pluto. Pada
awalnya dinamai 2003 EL61 dan 2005 FY9, pada tahun 2008 diberi nama dan
status sebagai planet kerdil. Orbit keduanya berinklinasi jauh lebih
membujur dari Pluto (28° dan 29°) dan lain seperti Pluto, keduanya tidak
dipengaruhi oleh Neptunus, sebagai bagian dari kelompok Objek Sabuk
Kuiper klasik.
Piringan tersebar
Piringan tersebar (scattered disc) berpotongan dengan sabuk Kuiper
dan menyebar keluar jauh lebih luas. Daerah ini diduga merupakan sumber
komet berperioda pendek. Objek piringan tersebar diduga terlempar ke
orbit yang tidak menentu karena pengaruh gravitasi dari gerakan migrasi
awal Neptunus. Kebanyakan objek piringan tersebar (scattered disc
objects, atau SDO) memiliki perihelion di dalam sabuk Kuiper dan
apehelion hampir sejauh 150 SA dari matahari. Orbit OPT juga memiliki
inklinasi tinggi pada bidang ekliptika dan sering hampir bersudut
siku-siku. Beberapa astronom menggolongkan piringan tersebar hanya
sebagai bagian dari sabuk Kuiper dan menjuluki piringan tersebar sebagai
“objek sabuk Kuiper tersebar” (scattered Kuiper belt objects).
Eris
Eris (rata-rata 68 SA) adalah objek piringan tersebar terbesar sejauh
ini dan menyebabkan mulainya debat tentang definisi planet, karena Eris
hanya 5%lebih besar dari Pluto dan memiliki perkiraan diameter sekitar
2.400 km. Eris adalah planet kerdil terbesar yang diketahui dan memiliki
satu bulan Dysnomia. Seperti Pluto, orbitnya memiliki eksentrisitas
tinggi, dengan titik perihelion 38,2 SA (mirip jarak Pluto ke matahari)
dan titik aphelion 97,6 SA dengan bidang ekliptika sangat membujur.
Daerah terjauh
Titik tempat Tata Surya berakhir dan ruang antar bintang mulai
tidaklah persis terdefinisi. Batasan-batasan luar ini terbentuk dari dua
gaya tekan yang terpisah: angin matahari dan gravitasi matahari.
Batasan terjauh pengaruh angin matahari kira kira berjarak empat kali
jarak Pluto dan matahari. Heliopause ini disebut sebagai titik permulaan
medium antar bintang. Akan tetapi Bola Roche Matahari, jarak efektif
pengaruh gravitasi matahari, diperkirakan mencakup sekitar seribu kali
lebih jauh.
Heliopause
Heliopause dibagi menjadi dua bagian terpisah. Awan angin yang
bergerak pada kecepatan 400 km/detik sampai menabrak plasma dari medium
ruang antarbintang. Tabrakan ini terjadi pada benturan terminasi yang
kira kira terletak di 80-100 SA dari matahari pada daerah lawan angin
dan sekitar 200 SA dari matahari pada daerah searah jurusan angin.
Kemudian angin melambat dramatis, memampat dan berubah menjadi kencang,
membentuk struktur oval yang dikenal sebagai heliosheath, dengan
kelakuan mirip seperki ekor komet, mengulur keluar sejauh 40 SA di
bagian arah lawan angin dan berkali-kali lipat lebih jauh pada sebelah
lainnya. Voyager 1 dan Voyager 2 dilaporkan telah menembus benturan
terminasi ini dan memasuki heliosheath, pada jarak 94 dan 84 SA dari
matahari. Batasan luar dari heliosfer, heliopause, adalah titik tempat
angin matahari berhenti dan ruang antar bintang bermula.

Voyager memasuki heliosheath
Bentuk dari ujung luar heliosfer kemungkinan dipengaruhi dari
dinamika fluida dari interaksi medium antar bintang dan juga medan
magnet matahari yang mengarah di sebelah selatan (sehingga memberi
bentuk tumpul pada hemisfer utara dengan jarak 9 SA, dan lebih jauh
daripada hemisfer selatan. Selebih dari heliopause, pada jarak sekitar
230 SA, terdapat benturan busur, jaluran ombak plasma yang ditinggalkan
matahari seiring edarannya berkeliling di Bima Sakti.
Sejauh ini belum ada kapal luar angkasa yang melewati heliopause,
sehingga tidaklah mungkin mengetahui kondisi ruang antar bintang lokal
dengan pasti. Diharapkan satelit NASA voyager akan menembus heliopause
pada sekitar dekade yang akan datang dan mengirim kembali data tingkat
radiasi dan angin matahari. Dalam pada itu, sebuah tim yang dibiayai
NASA telah mengembangkan konsep “Vision Mission” yang akan khusus
mengirimkan satelit penjajak ke heliosfer.
Awan Oort
Secara hipotesa, Awan Oort adalah sebuah massa berukuran raksasa yang
terdiri dari bertrilyun-trilyun objek es, dipercaya merupakan sumber
komet berperioda panjang. Awan ini menyelubungi matahari pada jarak
sekitar 50.000 SA (sekitar 1 tahun cahaya) sampai sejauh 100.000 SA
(1,87 tahun cahaya). Daerah ini dipercaya mengandung komet yang
terlempar dari bagian dalam Tata Surya karena interaksi dengan
planet-planet bagian luar. Objek Awan Oort bergerak sangat lambat dan
bisa digoncangkan oleh situasi-situasi langka seperti tabrakan, effek
gravitasi dari laluan bintang, atau gaya pasang galaksi, gaya pasang
yang didorong Bima Sakti.
Sedna
90377 Sedna (rata-rata 525,86 SA) adalah sebuah benda kemerahan mirip
Pluto dengan orbit raksasa yang sangat eliptis, sekitar 76 SA pada
perihelion dan 928 SA pada aphelion dan berjangka orbit 12.050 tahun.
Mike Brown, penemu objek ini pada tahun 2003, menegaskan bahwa Sedna
tidak merupakan bagian dari piringan tersebar ataupun sabuk Kuiper
karena perihelionnya terlalu jauh dari pengaruh migrasi Neptunus. Dia
dan beberapa astronom lainnya berpendapat bahwa Sedna adalah objek
pertama dari sebuah kelompok baru, yang mungkin juga mencakup 2000
CR105. Sebuah benda bertitik perihelion pada 45 SA, aphelion pada 415
SA, dan berjangka orbit 3.420 tahun. Brown menjuluki kelompok ini “Awan
Oort bagian dalam”, karena mungkin terbentuk melalui proses yang mirip,
meski jauh lebih dekat ke matahari. Kemungkinan besar Sedna adalah
sebuah planet kerdil, meski bentuk kebulatannya masih harus ditentukan
dengan pasti.

Foto teleskop Sedna
Banyak hal dari Tata Surya kita yang masih belum diketahui. Medan
gravitasi matahari diperkirakan mendominasi gaya gravitasi
bintang-bintang sekeliling sejauh dua tahun cahaya (125.000 SA).
Perkiraan bawah radius Awan Oort, di sisi lain, tidak lebih besar dari
50.000 SA. Sekalipun Sedna telah ditemukan, daerah antara Sabuk Kuiper
dan Awan Oort, sebuah daerah yang memiliki radius puluhan ribu SA, bisa
dikatakan belum dipetakan. Selain itu, juga ada studi yang sedang
berjalan, yang mempelajari daerah antara Merkurius dan matahari.
Objek-objek baru mungkin masih akan ditemukan di daerah yang belum
dipetakan
Konteks galaksi
Tata Surya terletak di galaksi Bima Sakti, sebuah galaksi spiral yang
berdiameter sekitar 100.000 tahun cahaya dan memiliki sekitar 200
milyar bintang. Matahari berlokasi di salah satu lengan spiral galaksi
yang disebut Lengan Orion. Letak Matahari berjarak antara 25.000 dan
28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi, dengan kecepatan orbit
mengelilingi pusat galaksi sekitar 2.200 kilometer per detik. Setiap
revolusinya berjangka 225-250 juta tahun. Waktu revolusi ini dikenal
sebagai tahun galaksi Tata Surya.[68] Apex matahari, arah jalur matahari
di ruang semesta, dekat letaknya dengan konstelasi Herkules terarah
pada posisi akhir bintang Vega.

Lokasi Tata Surya di dalam galaksi Bima Sakti
Lokasi Tata Surya di dalam galaksi berperan penting dalam evolusi
kehidupan di Bumi. Bentuk orbit bumi adalah mirip lingkaran dengan
kecepatan hampir sama dengan lengan spiral galaksi, karenanya bumi
sangat jarang menerobos jalur lengan. Lengan spiral galaksi memiliki
konsentrasi supernova tinggi yang berpotensi bahaya sangat besar
terhadap kehidupan di Bumi. Situasi ini memberi Bumi jangka stabilitas
yang panjang yang memungkinkan evolusi kehidupan.[70] Tata Surya juga
terletak jauh dari daerah padat bintang di pusat galaksi. Di daerah
pusat, tarikan gravitasi bintang-bintang yang berdekatan bisa menggoyang
benda-benda di Awan Oort dan menembakan komet-komet ke bagian dalam
Tata Surya. Ini bisa menghasilkan potensi tabrakan yang merusak
kehidupan di Bumi. Intensitas radiasi dari pusat galaksi juga
mempengaruhi perkembangan bentuk hidup tingkat tinggi. Walaupun
demikian, para ilmuwan berhipotesa bahwa pada lokasi Tata Surya sekarang
ini supernova telah mempengaruhi kehidupan di Bumi pada 35.000 tahun
terakhir dengan melemparkan pecahan-pecahan inti bintang ke arah
matahari dalam bentuk debu radiasi atau bahan yang lebih besar lainnya,
seperti berbagai benda mirip komet.

Daerah lingkungan sekitar
Lingkungan galaksi terdekat dari Tata Surya adalah sesuatu yang
dinamai Awan Antarbintang Lokal (Local Interstellar Cloud, atau Local
Fluff), yaitu wilayah berawan tebal yang dikenal dengan nama Gelembung
Lokal (Local Bubble), yang terletak di tengah-tengah wilayah yang
jarang. Gelembung Lokal ini berbentuk rongga mirip jam pasir yang
terdapat pada medium antarbintang, dan berukuran sekitar 300 tahun
cahaya. Gelembung ini penuh ditebari plasma bersuhu tinggi yang mungkin
berasal dari beberapa supernova yang belum lama terjadi.
Di dalam jarak sepuluh tahun cahaya (95 triliun km) dari matahari,
jumlah bintang relatif sedikit. Bintang yang terdekat adalah sistem
kembar tiga Alpha Centauri, yang berjarak 4,4 tahun cahaya. Alpha
Centauri A dan B merupakan bintang ganda mirip dengan matahari,
sedangkan Centauri C adalah kerdil merah (disebut juga Proxima Centauri)
yang mengedari kembaran ganda pertama pada jarak 0,2 tahun cahaya.
Bintang-bintang terdekat berikutnya adalah sebuah kerdil merah yang
dinamai Bintang Barnard (5,9 tahun cahaya), Wolf 359 (7,8 tahun cahaya)
dan Lalande 21185 (8,3 tahun cahaya). Bintang terbesar dalam jarak
sepuluh tahun cahaya adalah Sirius, sebuah bintang cemerlang dikategori
‘urutan utama’ kira-kira bermassa dua kali massa matahari, dan
dikelilingi oleh sebuah kerdil putih bernama Sirius B. Keduanya berjarak
8,6 tahun cahaya. Sisa sistem selebihnya yang terletak di dalam jarak
10 tahun cahaya adalah sistem bintang ganda kerdil merah Luyten 726-8
(8,7 tahun cahaya) dan sebuah kerdial merah bernama Ross 154 (9,7 tahun
cahaya). Bintang tunggal terdekat yang mirip matahari adalah Tau Ceti,
yang terletak 11,9 tahun cahaya. Bintang ini kira-kira berukuran 80%
berat matahari, tetapi kecemerlangannya (luminositas) hanya 60%. Planet
luar Tata Surya terdekat dari matahari, yang diketahui sejauh ini adalah
di bintang Epsilon Eridani, sebuah bintang yang sedikit lebih pudar dan
lebih merah dibandingkan mathari. Letaknya sekitar 10,5 tahun cahaya.
Planet bintang ini yang sudah dipastikan, bernama Epsilon Eridani b,
kurang lebih berukuran 1,5 kali massa Yupiter dan mengelilingi induk
bintangnya dengan jarak 6,9 tahun cahaya.